
T.Tinggi, tv Intelijen News.com – Halal bihalal berubah jadi forum kegelisahan publik—isu narkoba, judi, dan praktik asusila disebut kian terbuka, tokoh masyarakat minta langkah nyata, bukan sekadar janji
Tidak ada tepuk tangan meriah. Tidak ada basa-basi panjang. Yang terdengar justru nada tegas—bahkan cenderung menekan.
Malam halal bihalal di kediaman Ustadz Husen, Jalan Sei Babura, Kamis (26/3/2026), berubah menjadi panggung kegelisahan masyarakat yang sudah lama terpendam.
Satu per satu suara muncul. Isinya sama: kota ini sedang tidak baik-baik saja.
Buya Amin Khan berbicara lugas. Ia menyebut keresahan masyarakat kini bukan lagi isu pinggiran, melainkan realitas yang dirasakan langsung di lingkungan keluarga.
“Orang tua mulai resah. Anak-anak terpapar narkoba. Ini bukan kabar angin—ini yang terjadi di sekitar kita,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan berdiri sendiri. Ustadz Muslim Istiqomah,SSQ,CTP menambahkan dimensi lain: praktik perjudian yang disebut semakin variatif dan terbuka.
Dari togel konvensional hingga judi online, bahkan aktivitas lain yang meresahkan, disebut masih terus berdenyut di tengah masyarakat.
“Kalau ini terus dibiarkan, dampaknya bukan hanya hukum—tapi kerusakan sosial yang luas,” tegasnya.
Tak berhenti di situ, forum juga menyinggung dugaan praktik asusila di sejumlah tempat kos dan lokasi hiburan. Para tokoh menilai fenomena ini bukan lagi rahasia umum, melainkan persoalan yang membutuhkan penanganan serius lintas sektor.
Ustadz Husen, sebagai tuan rumah, mencoba menarik garis tegas: kritik boleh keras, tapi tetap harus berpijak pada fakta dan mekanisme hukum.
Ia menyampaikan bahwa ada berbagai informasi yang beredar di masyarakat, termasuk dugaan lemahnya pengawasan. Namun menurutnya, semua itu harus diuji secara objektif.
“Kita tidak ingin berasumsi. Tapi juga tidak boleh menutup mata. Aparat harus menjawab ini dengan kerja nyata,” katanya.
Pesan yang muncul malam itu sederhana, tapi berat maknanya:
Masyarakat tidak menuntut hal muluk. Mereka hanya ingin rasa aman kembali nyata.
Sorotan pun mengarah pada aparat penegak hukum dan pemerintah daerah. Bukan untuk disudutkan, melainkan didorong agar lebih responsif dan transparan dalam menangani penyakit masyarakat yang kian kompleks.
Nada peringatan sempat mengemuka—bukan ancaman, melainkan refleksi kegelisahan publik.
“Kalau tidak ada langkah konkret, dikhawatirkan kepercayaan publik akan terus menurun. Dan itu tidak baik bagi semua,” ujar salah satu peserta.
Malam itu tidak menghasilkan keputusan formal. Tidak ada deklarasi.
Namun satu hal jelas: suara masyarakat sudah keluar—jernih, keras, dan sulit diabaikan.
Kini, publik menunggu.
Bukan sekadar penjelasan—tetapi tindakan. Jika tidak mampu Mundur saja, tegas para tokoh
isi Berita ini merupakan rangkuman aspirasi tokoh masyarakat dalam forum terbuka. Ruang klarifikasi dan tanggapan tetap terbuka bagi pihak terkait demi menjaga prinsip keberimbangan informasi.(ADM/red).
Posting Komentar